Archives

Profile Perguruan

Betapa cantiknya Indonesia tercinta dengan beribu pulau, berjuta populasi, dengan etnis dan seni budaya yang sangat banyak beragam.

Suatu ironi, dewasa ini banyak sudah seni budaya bangsa asing masuk dan menerjang kita, digandrungi kaum muda generasi harapan bangsa. Mereka terlena, kami sangat khawatir mereka belum tahu bahwa seni budaya di Nusantara ini, kaya dengan nilai-nilai luhur, sarat dengan aspek-aspek seni budaya nan indah, olahraga, beladiri dan mental spiritual.

Sementara itu, orang-orang Barat pada saat ini telah gandrung dan berupaya mendalam seni budaya tradisional Indonesia.

Untuk itu kami Perguruan Pencak Silat Padjadjaran Nasional, ingin lebih mengangkat kepermukaan, dan bersungguh-sungguh untuk melestarikan, menumbuhkembangkan seni budaya tradisional khas Indonesia pencak silat ini, kami telah cukup mendalami secara teori dan praktek jurus-jurus aliran Padjadjaran, baik dikalangan sendiri / keluarga besar Padjadjaran Nasional ataupun selama puluhan tahun mengajarkannya terhadap masyarakat luas baik dikalangan pelajar dan mahasiswa ataupun umum, domestik ataupun internasional.

Selintas

SEJARAH PERKEMBANGAN

PENCAK SILAT PADJADJARAN NASIONAL

Gunung Jati Cirebon

Gunung Jati Cirebon, disamping merupakan sumber / pusat pengembangan agama Islam di jaman para wali khususnya di Jawa Barat, juga merupakan cikal bakal / asal mula Ilmu Pencak Silat dibawa oleh para ulama / santri yang mengemban tugas didalam pengembangan syiar agama Islam yang sengaja dibekali untuk melengkapi dan melindungi diri dengan beladiri, yang pada saar itu disebut Gerak Gulung Budi Daya. Adapun para wali yang membawa misi pada waktu itu antara lain : 1. Pangeran Jaka Sembung, 2.Pangeran Gagak Lumayung, 3.Pangeran Sake, dan 4.Pangeran Papak.

Mulai saat itu Ilmu Pencak Silat sangat dikenal dikalangan masyarakat Jawa Barat, dan akhirnya bermunculan perguruan-perguruan / aliran pencak silat, antara lain : Aliran Sera, yang pada dasarnya mengambil dari gerakan-gerakan yang senantiasa lebih banyak menunggu, yang artinya Tumamprah atau pasrah diri.

Kemudian muncul juga aliran yang disebut Cimande, adapun arti dan pengertian asal kata Cimande adalah Cai Iman Anu Hade. Asal kata tersebut disebabkan setiap para santri yang akan berlatih pencak silat, diwajibkan / diharuskan mengambil air wudhu.

Dari tahun ke tahun semakin pesatlah perkembangan pencak silat tersebut, bahkan betul-betul membudaya secara turun temurun sampai saat ini. Hal ini dapat dibuktikan setelah kita coba mencatatnya antara lain : ● Masih berdirinya Perguruan Pencak Silat Pusaka Karuhun, sampai pada tanggal 12 Desember 1928 oleh Almarhum Eyang Guru K.H.Rd. Ahmad Karta Kusumah dirubah dan berganti nama menjadi Perguruan Pencak Silat Padjadjaran yang berpusat di Bogor.

Setelah Eyang Guru wafat, Perguruan Pencak Silat Padjadjaran diturunkan kepada Almarhum Eyang Guru H.Rd. Abdullah, dan berikutnya kepada Kakek Guru Almarhum Rd.Moch.Yusuf, untuk kemudian sebagai penerusnya yang juga merupakan pewaris sekaligus sebagai Guru Besar adalah Bapak Tubagus Mochammad Sidik Sakabrata (Abah Sidik).

Sejak masa inilah Perguruan Pencak Silat Padjadjaran mengalami jaman keemasan, serta mengikuti arus perkembangan jaman modern.

Karena telah menjamurnya perguruan-perguruan pencak silat di seluruh pelosok tanah air, maka pemerintah membentuk suatu wadah dinamakan Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI), hal ini dimaksudkan untuk penanggulangan dalam mengatasi bentrok-bentrokkan / perkelahian-perkelahian diantara perguruan-perguruan. Dengan adanya IPSI sebagai wadah dari seluruh perguruan yang ada di Indonesia, dan dibuatnya ketentuan-ketentuan dan peraturan pertandingan, maka perkelahian sesama perguruan dapat disalurkan melalui event-event resmi yang diadakan oleh IPSI dengan peraturan tertentu. Dan semua perguruan dapat bersaing secara sehat untuk menunjukkan prestasinya.

Dengan dibentuknya suatu wadah oleh Pemerintah, dan Perguruan Pencak Silat Padjadjaran masuk didalamnya, maka mulai saat itu Perguruan Pencak Silat Padjadjaran mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta 7 (tujuh) butir janji setia perguruan, dan mengandung 4 (empat) unsur / aspek, yaitu : 1. Budaya, 2. Olahraga, 3.Beladiri, 4. Mental Spiritual.

Juga mempunyai kepengurusan pusat dan membuka cabang-cabang yang tersebar diseluruh propinsi Indonesia, sampai pada akhirnya Perguruan Pencak Silat Padjadjaran mendapat predikat Nasional, yang pada waktu itu satu-satunya di Bogor yang berpredikat Nasional tersebut. Namun walaupun Perguruan Pencak Silat Padjadjaran sudah bertarap Nasional, tapi kitapun tidak lepas dari motto : Asih – Budi – Bakti – Sakti. Dan tidak melupakan Siloka dari Sri Paduka Maharaja Padjadjaran, yaitu : Teu Padjauh Ku Paanggang, Urang Silih Dedengekeun Ngaran, Tuh… Molongpong Djalan Ka Padjadjaran Geusan Mulang Di Mangsa Datang. (Bahasa Siloka ini merupakan bahan untuk kita kaji).

Apabila ditelusuri silsilah dan menurut keterangan dari para Guru, tokoh-tokoh persilatan, para leluhur, serta karuhun / nenek moyang terdahulu gerakan yang lima pusaka / panca pusaka (Cimande, Sera, Sahbandar, Cikalong, Depokan) ini sangat agung dan mulia serta manfaat untuk mendapatkan keselamatan lahir batin, sebab apabila kita kaji dan hayati secara seksama, sesungguhnya Pencak Silat tidak terpisahkan dengan ilmu ketauhidan, selalu pasrah dan beribadah kepada Allah SWT dan Rasulnya dalam mencapai kesempurnaan lahir batin.

Sedangkan tujuan dari Pencak Silat itu sendiri adalah : Pencak artinya Panca Indera, Empat Ka lima Pancer, kenyataannya : 1. Jalannya pernapasan, 2. Jalannya pengucapan, 3. Jalannya penglihatan, 4.Jalanya pendengaran. Keempat kenyataan inilah yang senantiasa harus kita jaga setiap saat, jangan terpengaruh oleh berbagai hawa napsu yang bisa mengakibatkan celakanya diri kita, akhirnya kita akan ingkar dari ketauhidan, kepada Allah dan Rasulnya. Kelima pancer, pancernya hidup kita geraknya jasmani dan rohani karena Allah SWT. Tanpa ridho dari yang Maha Kuasa, kita tidak bisa apapun, tiada daya dan upaya. (Disunting dari catatan Bpk. Amirullah Sudarman / Kang Emen dalam laporan Team 17 Hariangbanga).

Ketua Dewan Pendekar,

Amirullah Sudarman